Aku Telah Kehilangan Kehormatanku?




Seorang perjaka yang kesepakatan beragama maju untuk menikah. Dia mulai mencari calon pasangan perempuan. Syarat satu-satunya yaitu semoga ia seorang wanita yang komitmen, berakhlak, dan berpengaruh agama. Dan setelah melalui pencarian, kini ia telah menemukan gadis tersebut, sebagaimana ciri-ciri yang diinginkan.

Setelah melamar, dan dikala ia telah berkemas-kemas untuk menikah, tiba-tiba calon mempelai perempuan menolak dan mengatakan bahwa ia tidak ingin menikah. Keluarganya terheran melihat keputusannya yang mengagetkan, setelah sebelumnya memperlihatkan kesanggupan. Pemuda itu meminta sang gadis untuk menjelaskan penolakannya, namun justru ia membawakan alasan-alasan yang lemah. Setelah itu, perkaranya ditangani oleh ibunya yang merasa sangat duka dengan keputusan ini. Terlebih, perjaka itu terkenal dengan cantik adab dan akal pekertinya.

Setelah sang ibu mendesaknya, ia (calon mempelai perempuan tersebut) berkata kepada ibunya, “Sesungguhnya Yang Mahakuasa Maha menutupi (dosa hamba-hamba-Nya), dan Dia telah menutupiku. Tinggalkanlah saya dan urusanku…” Di hadapan desakan sang ibu yang sangat gundah dengan perkara itu, ia berterus terang kepada sang ibu bahwa dirinya telah kehilangan kehormatannya, namun ia telah bertaubat. Dan bahwa peristiwa itulah yang menimbulkan sikap komitmennya terhadap agamanya, sekaligus karena penolakannya untuk menikah. Ia meminta ibunya semoga merahasiakan perkara itu, dan bahwa ia akan menebus karena kesalahannya. Ibunya memikirkan perkara itu dan berkata, “Putriku! Selama kau telah bertaubat kepada Allah, sedang Yang Mahakuasa mendapatkan taubat hamba-hamba-Nya dan memaafkan banyak dosa, maka biarkan saya meminta pendapat perjaka itu, barangkali ia akan mendapatkan atau menutupinya…”

Setelah melalui musyawarah dan diskusi yang panjang, gadis itu pun mendapatkan anjuran itu. Sang ibu pun pergi, tidak tahu entah bagaimana akan membuka informasi buruk ini kepada sang calon pengantin. Setelah sempat bimbang, tidak lama kemudian ia meminta supaya perjaka itu menemuinya.

Ketika perjaka itu datang, ia membuka permasalahan itu kepadanya dan meminta pendapatnya. Ia menceritakan bahwa putrinya menjadi kesepakatan terhadap agama setelah perbuatan itu dan telah bertaubat kepada Allah, inilah karena penolakannya untuk menikah…

Pemuda itu berpikir sejenak, kemudian berkata kepadanya, “Saya sepakat untuk menikah dengannya selama ia telah bertaubat dan kembali kepada Yang Mahakuasa dan istiqamah. Dahulu sebelum komitmenku terhadap agama, saya sendiri berada dalam kemaksiatan dan kemungkaran. Sementara kita tidak tahu siapakah yang diterima taubatnya di sisi Allah.”

Sebagaimana salah satu firman Allah:

“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-A’raf: 153).

Wajah sang ibu itu berseri mendengar informasi bangga ini dan segera pergi menemui putrinya dengan penuh suka cita, dan dalam waktu yang bersamaan ia merasa takjub dengan sikap ksatria dan keputusan baik perjaka itu, lalu memberitahukan kabar bangga itu kepada putrinya. Dan ijab kabul pun terlaksana.

Ketika bertemu, sang wanita banyak menangis. Sementara bahasa isyaratnya mengatakan, “Betapa engkau laki-laki cerdas. Aku akan menjadi istri yang taat bagimu.” Dan Yang Mahakuasa pun mempertemukan mereka berdua dengan kebaikan.

Tidak ada insan yang tepat selain Rasulullah SAW, tidak ada yang terlambat sebelum ajal menjemput sebagaimana firman Allah:

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlan kau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Yang Mahakuasa mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Az-Zumar: 53). 
“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Yang Mahakuasa Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 110).
“Dan Dialah yang mendapatkan taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kau kerjakan.” (Asy-syuura: 25).
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-A’raf: 153).
“Tidakkah mereka mengetahui, bekerjsama Yang Mahakuasa mendapatkan taubat dari hamba-Nya dan mendapatkan zakat, dan bekerjsama Yang Mahakuasa Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 104).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Yang Mahakuasa dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kau ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8).


Silahkan share artikel ini. Agar adik-adik muslimah ataupun sobat muslimah dapat menjaga kehormatannya dan tidak kehilangan kehormatannya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Telah Kehilangan Kehormatanku?"

Posting Komentar